Senin, 16 April 2012

METODE PENELITIAN SEJARAH

        Metode   penelitian   sejarah   adalah   metode   atau   cara   yang   digunakan sebagai    pedoman    dalam    melakukan    penelitian    peristiwa    sejarah    danpermasalahannya.    Dengan    kata    lain,    metode    penelitian    sejarah    adalah instrumen  untuk  merekonstruksi  peristiwa  sejarah  (history  as  past  actuality) menjadi  sejarah  sebagai  kisah  (history  as  written).  Dalam  ruang  lingkup  Ilmu Sejarah, metode penelitian itu disebut metode sejarah.
       Metode  sejarah  digunakan  sebagai  metode  penelitian,  pada  prinsipnya bertujuan  untuk  menjawab  enam  pertanyaan  (5  W  dan  1  H)  yang  merupakan elemen   dasar   penulisan   sejarah,   yaitu   what   (apa),    when   (kapan),    where (dimana),   who   (siapa),   why   (mengapa),   dan   how   (bagaimana).   Pertanyaan-pertanyaan  itu  konkretnya  adalah:  Apa  (peristiwa  apa)  yang  terjadi?  Kapan terjadinya?   Di   mana   terjadinya?   Siapa   yang   terlibat   dalam   peristiwa   itu? Mengapa peristiwa itu terjadi? Bagaimana proses terjadinya peristiwa itu?
Dalam  proses  penulisan  sejarah  sebagai  kisah,  pertanyaan-pertanyaan dasar itu  dikembangkan sesuai  dengan  permasalahan  yang perlu  diungkap dan dibahas.    Jawaban    atas    pertanyaan-pertanyaan    itulah    yang    harus    menjadi sasaran    penelitian    sejarah,    karena    penulisan    sejarah    dituntut    untuk menghasilkan  eksplanasi  (kejelasan)  mengenai  signifikansi  (arti  penting)  dan makna peristiwa.

Pemilihan Topik Penelitian

        Suatu  penelitian  ilmiah  tentu  berawal  dari  pemilihan  topik  yang  akan diteliti.   Dalam   bidang   sejarah,   topik   penelitian   harus   memenuhi   beberapa persyaratan.
  • Topik  itu  harus  menarik (interesting  topic),  dalam  arti  menarik  sebagai obyek  penelitian.  Dalam  hal ini termasuk adanya  keunikan  (uniqueness topic).
  • Substansi  masalah  dalam  topik  harus  memiliki  arti  penting  (significant topic), baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi kegunaan tertentu.
  • Masalah   yang   tercakup    dalam   topik   memungkinkan    untuk    diteliti (manageable   topic).   Persyaratan   ini   berkaitan   dengan   sumber,   yaitu sumber-sumbernya dapat diperoleh.
       Meskipun  topik  sangat  menarik  dan  memiliki  arti  penting,  namun  bila sumber-sumbernya,  khususnya  sumber  utama  tidak  diperoleh,  masalah  dalam topik  tidak  akan  dapat  diteliti.  Oleh  karena  itu  calon  peneliti  harus  memiliki wawasan luas mengenai sumber, khususnya sumber tertulis.

Studi Pendahuluan

        Setelah  topik  penelitian  ditentukan,  segera  lakukan  studi  pendahuluan. Cari  sumber-sumber  acuan  utama,  yaitu  sumber-sumber  yang  diduga  memuat data  atau  informasi  yang  relevan  dengan  topik  penelitian.  Dengan  menelaah sumber-sumber   acuan   utama   secara   efektif,   peneliti   akan   dapat   memahami ruang  lingkung  penelitian,  baik  ruang  lingkup  masalah  maupun  ruang  lingkup temporal (waktu) dan spasial (tempat/wilayah) obyek penelitian. Ruang   lingkup   penelitian   itu   kemudian   dituangkan   dalam   rencana kerangka    tulisan    (laporan    penelitian).    Sementara    itu,    telaah    pula bibliografi/daftar  pustaka  pada  setiap  sumber  acuan  utama  yang  berupa  buku ilmiah.   Hal   itu   dimaksudkan   untuk   mendapat   tambahan   informasi   sumber-sumber  yang  diduga  memuat  data  tentang  masalah  yang  akan  diteliti.  Catat identitas sumber-sumber itu menjadi bibliografi kerja.

Implementasi Penelitian

Penelitian sejarah yang pada dasarnya adalah penelitian terhadap sumber-sumber  sejarah,  merupakan  implementasi  dari  tahapan  kegiatan  yang tercakup    dalam    metode    sejarah,    yaitu    heuristik,    kritik,    interpretasi,    dan historiografi.    Tahapan    kegiatan    yang    disebut    terakhir    sebenarnya    bukan kegiatan   penelitian,   melainkan   kegiatan   penulisan   sejarah   (penulisan   hasil penelitian).

Heuristik

Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil-tidaknya pencarian sumber, pada dasarnya tergantung dari wawasan  peneliti  mengenai  sumber  yang  diperlukan  dan  keterampilan  teknis penelusuran sumber. Berdasarkan bentuk penyajiannya, sumber-sumber sejarah terdiri  atas  arsip,  dokumen,  buku,  majalah/jurnal,  surat  kabar,  dan  lain-lain. Berdasarkan  sifatnya,  sumber  sejarah  terdiri  atas  sumber primer  dan  sumber sekunder.  Sumber primer adalah sumber yang waktu pembuatannya  tidak jauh dari   waktu   peristiwa   terjadi.   Sumber   sekunder   adalah   sumber   yang   waktu pembuatannya jauh dari waktu terjadinya peristiwa. Peneliti   harus   mengetahui benar,   mana   sumber   primer   dan   mana   sumber   sekunder.   Dalam   pencarian sumber   sejarah,   sumber   primer   harus   ditemukan,   karena   penulisan   sejarah ilmiah tidak ukup hanya menggunakan sumber sekunder. Agar    pencarian    sumber    berlangsung    secara    efektif,    dua    unsur penunjang heuristik harus diperhatikan.
  • Pencarian  sumber  harus  berpedoman  pada  bibliografi  kerja  dan  kerangka tulisan.   Dengan  memperhatikan  permasalahan-permasalahan  yang  tersirat dalam kerangka tulisan (bab dan subbab), peneliti akan mengetahui sumber-sumber yang belum ditemukan.
  • Dalam  mencari  sumber  di  perpustakaan,  peneliti  wajib  memahami  sistem katalog perpustakaan yang bersangkutan.

Kritik Sumber

        Sumber untuk penulisan sejarah ilmiah bukan sembarang sumber, tetapi sumber-sumber   itu   terlebih   dahulu   harus   dinilai   melalui   kritik ekstern   dan kritik intern.  Kritik  ekstern  menilai,  apakah  sumber  itu  benar-benar  sumber yang  diperlukan?  Apakah  sumber  itu  asli,  turunan,  atau  palsu?  Dengan  kata lain, kritik ekstern menilai keakuratan sumber. Kritik intern menilai kredibilitas data dalam sumber. Tujuan  utama  kritik  sumber  adalah  untuk  menyeleksi  data,  sehingga diperoleh  fakta.  Setiap  data  sebaiknya  dicatat  dalam  lembaran  lepas  (sistem kartu), agar memudahkan pengklasifikasiannya berdasarkan kerangka tulisan.

Interpretasi

       Setelah  fakta  untuk  mengungkap  dan  membahas  masalah  yang  diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interpretasi, yaitu penafsiran akan makna fakta  dan  hubungan  antara  satu  fakta  dengan  fakta  lain.  Penafsiran  atas  fakta harus   dilandasi   oleh   sikap   obyektif.   Kalaupun   dalam   hal   tertentu   bersikap subyektif,  harus  subyektif  rasional,  jangan  subyektif  emosional.  Rekonstruksi peristiwa   sejarah   harus   menghasilkan   sejarah   yang   benar   atau   mendekati kebenaran.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by HERRYZAMUSIC Themes | Bloggerized by herryzamusic - Premium herryza Themes | pembelajaran Sejarah ; Pendidikan Sejarah FIS UM 2010 Offering A